Peringati Hari Anti Tambang, Tema Pekan Literasi Torobulu: Mengenal Alam Melalui Warna
Saya yang semula sibuk membantu adik-adik lain mencari krayon sesuai warna yang mereka inginkan, menoleh untuk mencari Qiyas sore itu.
Saya yang semula sibuk membantu adik-adik lain mencari krayon sesuai warna yang mereka inginkan, menoleh untuk mencari Qiyas sore itu.
Bagaimana jika anak-anak Bajo tidak mengetahui warna laut lantaran dipenuhi tanah merah? Bagaimana jika mereka tidak lagi mengenal jenis-jenis ikan? Atau bagaimana jika laut justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan dan keselamatan anak-anak Bajo lantaran tercemar lumpur galian ore nikel?
Bahkan PT WIN secara terang-terangan melakukan kerukan di samping sekolah dasar dan lahan di sekitar rumah warga, sebagaimana PT WIN lakukan pada beberapa desa lain.
Terkadang judul khutbah saya selip tentang betapa kita butuh akan kelestarian alam dan oleh karenanya penting untuk menjaganya.
Kerap muncul pertanyaan, mengapa perempuan mengucilkan perempuan lain? Mengapa perempuan tidak mendukung suara perempuan lain?
Bagaimana rasanya putus sekolah, ditinggal bapak meninggal, dan Ibu harus pergi mengikuti suami barunya ?
PT. Wijaya Inti Nusantara (WIN) kembali menambang di sekitar pemukiman warga Desa Torobulu, Laeya, Konawe Selatan, sejak 15 Agustus 2025. Warga yang bermukim di sekitar kerukan tambang melakukan protes keras, Kamis, 28 Agustus 2025.
Bermula pada 2019, penolakan Ayunia Muis terhadap perusahaan tambang nikel di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Konawe Selatan, bukan tak berdasar. Lulusan Kesehatan Lingkungan dan Keselamatan Kerja (KLKK), Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi salah satu faktor yang menggerakkan Ayu –panggilan akrabnya – menolak kehadiran tambang nikel.
Kapal kayu yang berukuran cukup besar itu membawa sembilan orang warga Desa Torobulu menuju Pulau Kelapa (Wawonii). Bertolak dari Kota Kendari, waktu tempuh yang diperlukan empat hingga lima jam untuk tiba di Desa Sukarela Jaya, Wawonii Tenggara.