Penggerak literasi Torobulu tampak sedang mendongeng dan memperlihatkan gambar tentang alam, 30 Mei 2026. Foto: Ayunia Muis/Jagakampung.net
Jagakampung.net– “Dek, lihatpi gambarnya Qiyas, da gambar alat berat (excavator), “ kata Kak Hermina kepada saya di acara Pekan Literasi, Torobulu, 30 Mei 2026.
Saya yang semula sibuk membantu adik-adik lain mencari krayon sesuai warna yang mereka inginkan, menoleh untuk mencari Qiyas sore itu.
Pekan Literasi kali ini tidak diselenggarakan di Lorong Bajo. Kami memilih tempat berbeda, yakni di Lorong Indra, persisnya di halaman rumah Kak Hermina, salah satu penggerak Pekan Literasi.
Sebagai bagian dari Peringatan Hari Anti Tambang, sejak dua hari sebelumnya kegiatan ini direncanakan oleh perempuan penggerak literasi. Setelah sore itu anak-anak diajak menggambar tentang alam, kegiatan selanjutnya adalah nonton bareng (nobar) “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Pemutaran film dokumenter garapan Dhandy Dwi Laksono dan Cypri Dale itu berlangsung pukul 20.00 WITA, tentu saja diselingi dengan makan buras dan panganan lainnya buatan warga. Ini sebagai upaya menggugah ingatan tentang alam dan tali yang mempererat solidaritas. Kegiatan dipungkasi dengan diskusi dan tanya jawab perihal isu-isu lingkungan.

Qiyas memperlihatkan gambarnya, terdapat satu alat berat warna kuning yang siap merobohkan pohon, 30 Mei 2026. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Sore itu, hampir lima puluh anak bergumul dengan rasa penasaran masing-masing menanti kami memulai percakapan. Setelah lama menunggu dan menyiapkan alas duduk, menghitung alat tulis, sepertinya cukup untuk semua anak yang hadir.
Dibuka dengan cerita dongeng tentang Ahsan, anak lelaki yang bermain puzzle sambil makan kue coklat kacang, yang menangis karena ceceran kuenya dipenuhi semut. Ibu Ahsan kemudian membantu untuk membersihkan dan menasihati Ahsan agar membuang bungkus kue dan sisa kue Ahsan ke tempat sampah.
Pesan hikmah dari dongeng, kebersihan merupakan akhlak mulia bagi seorang muslim, Allah menyayangi hamba-Nya yang menjaga kebersihan.
Tak berlama-lama, kami mengeluarkan perlengkapan gambar, kertas, krayon, pensil warna, pensil, peraut, dan penghapus.
“saya mau gambar apa ini di?.”
“bisakah kita gambar ikan?.”
“saya mau rumah.”
Kata anak-anak mencari-cari ide untuk menggambar. Mata anak-anak mulai mencari peralatan menggambar yang cocok dengan idenya, mereka juga saling berbisik tersipu.
“hari ini temanya alam, silahkan menggambar semaunya, kalau butuh bantuan angkat tangan, nanti kakak temani,” kataku sedikit meredam kebingungan anak-anak itu.

Anak-anak Torobulu sedang asik menggambar, 30 Mei 2026. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Keceriaan anak-anak peserta literasi
Sore itu berlalu begitu cepat, semua anak sibuk menggambar dan semuanya teratur, saling bantu meraut pensil, berbagi pewarna, dan bertukar ide. Karena begitu banyaknya, saya fokus menemani 4 anak, teman yang lain menemani sisanya.
Pada menit terakhir saya baru memperhatikan Qiyas, anak seorang teman, menggambar hamparan langit biru, matahari berwarna kuning cerah, tak ada yang aneh, setelah Qiyas memindahkan tangannya yang menghalangi sisi bawah kertas gambar, satu alat berat excavator tampak ingin merobohkan pohon di atas bukit hijau. Saya saling melihat dengan semua teman.
“kenapa kamu gambar exca?”
“Qiyas dia gambar exca.”
sahut teman-temannya saling menyambung. Qiyas tak menjawab ketika ditanya teman-temannya tentang maksud gambar alat berat merobohkan pohon di atas bukit hijau.
Di akhir kegiatan Pekan Literasi, kami semua menyanyikan lagu Indonesia raya diiringi gitar, dan menggantungkan karya anak-anak pada tali yang sudah merentang di samping kanan dan kiri baliho yang akan menjadi tempat nonton malam nanti.
Kekuasan mungkin memiliki segala instrumen, mulai dari aturan, aparat negara, modal hingga narasi pembangunan yang dipelintir, nyatanya keserakahan tak hanya merugikan kita sekarang, mereka mengubur perlahan, anak dan cucu kita.*





