Beranda / Warta / Film Pesta Babi, Dapur Aktivis Perempuan Torobulu, dan Upaya Warga Lingkar Tambang Bangun Solidaritas

Film Pesta Babi, Dapur Aktivis Perempuan Torobulu, dan Upaya Warga Lingkar Tambang Bangun Solidaritas

Suasanan nobar film Pesta Babi di Torobulu, 30 Mei 2026. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net

Jagakampung.net – Saya memulai perjalanan menuju Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Konawe Selatan, dari Kota Kendari sekira pukul 16.37 WITA.

Di Torobulu, saya akan menghadiri undangan acara nobar film “Pesta Nabi: Kolonialisme di Zaman Kita” garapan sutradara Dandy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Nobar ini digelar oleh Aliansi Pejuang Lingkungan (APEL) dan HAM Torobulu pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Jarak antara Kota Kendari-Torobulu cukup jauh hingga menghabiskan tempo kurang lebih dua jam. Ketika memasuki Kecamatan Laeya, di beberapa titik, hamparan padi hijau menguning terbentang di dua sisi jalan raya. Artinya padi-padi tersebut tidak akan lama lagi dipanen warga.

Dan ketika saya hampir tiba, tapal batas papan Desa Torobulu terlihat di pinggir jalan bertuliskan “Selamat datang di Desa Torobulu”.

Tiba di Desa Torobulu pukul 18.12 WITA, bersama kawan seperjuangan, saya singgah istrahat di rumah makan yang menyediakan menu kopi pahit dan pop ice dingin. Di sini, saya menyempatkan buka laptop mengerjakan tugas artikel yang wajib diselesaikan.

Pada pukul 19.52 WITA, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kegiatan sesuai titik dalam undangan.

Solidaritas dari dapur aktivis perempuan Torobulu

Sesampai di lokasi nobar, kami langsung diarahkan masuk rumah oleh panitia penyelenggara untuk mencicipi suguhan masakan mereka. Ada buras, rendang, udang dan kudapan lainnya. Di lokasi, sudah ada beberapa warga lingkar tambang seperti warga Wawonii, dan Wonua Kongga, yang menikmati jamuan dari tuan rumah warga Torobulu.  

Persiapan acara nobar ini diatur sepenuhnya oleh panitia yang notabene adalah perempuan semua. Sejak kemarin mereka mulai memasak untuk suguhan para penonton film. Perempuan-perempuan Torobulu ini rela patungan demi solidaritas bersama warga lingkar tambang.

Urusan patungan untuk solidaritas gerakan itu bukan hal baru bagi mereka. Sudah sejak pertama kali gerakan menentang PT WIN, bertahun lalu, perempuan-perempuan Torobulu ini patungan untuk menghidupi komunitas dan gerakan menentang tambang meski ekonomi mereka sendiri pas-pasan.

Dari dapur bersama, perempuan-perempuan Torobulu itu membangun gerakan, berjejaring dengan aktivis-aktivis lingkungan dari luar desa seperti dari Pulau Wawonii, dan menjalin kontak dengan oganisasi-organisasi non pemerintah. Itu semua mereka lakukan demi menjaga Desa Torobulu dari kerusakan akibat aktivitas PT WIN.

Kesewenang-wenangan negara

Sebelum acara nobar dimulai, ada pameran gambar karya anak-anak yang digantung di lokasi pemutaran film. Pameran ini dinisiasi oleh pegiat pekan literasi Perempuan Torobulu Melawan, yang sekaligus sebagai panitia nobar.

Acara nobar film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, dimulai pukul 20.20 WITA. Warga terlihat antusias saat film diputar. Tidak kurang dari 50 warga yang nonton.

Dalam pemutaran film tersebut dilangsungkan dengan diskusi yang dipandu oleh Hermina, warga Torobulu. Kemudian ada tiga narasumber di antaranya Wilman (LBH Makassar), Sarman (Jatam Sultra) dan Andi firmansyah (warga Desa Torobulu).

Wilman, LBH Makassar, menyampaikan pandangannya terhadap keberadaan proyek strategis nasional di era presiden ketujuh Jokowi. Menurutnya, Proyek Strategi Nasionan (PSN) merampas tanah-tanah petani dan adat.

“Sementara dalam 5 sila di tubuh Pancasila, seharusnya negara harus memberikan keadilan, memenuhi kesejahteraan masyarakat tanpa merugikan masyarakat itu sendiri dan kemanusiaan,” jelasnya.

Lebih lanjut Wilman mengungkapkan pandangannya terhadap hukum yang terjadi di negara kita persis seperti film Pesta Babi.

“Film dokumenter Pesta Babi bisa kita lihat bahwa negara kita sekarang bukan lagi negara hukum yang harus melindungi masyarakat, melainkan hanya melindungi perusahaan dan struktur negaranya,” terang Wilman.

Wilman menyinggung apa yang dialami oleh warga Papua, Wawonii, Torobulu dan Wonua Kongga. Warga-warga tersebut harus bersama saling menguatkan membangun solidaritas gerakan.

“Di tempat ini kita sama-sama mengalami kondisi yang sama. Baik itu di Wawonii, Torobulu dan Wonua Kongga. Dengan kata lain kita sebagai pemegang teguh kedaulatan tertinggi  tapi kita tidak pernah dilibatkan dalam skema perencanaan pemasukan pertambangan di desa kita,” ucap Wilman.

Diskusi berlangsung usai pemutaran film Pesta Babi, 30 Mei 2026. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net

Bangun gerakan warga

Andi Firmansyah, warga Torobulu yang jadi narasumber kedua, mengaitkan kondisi warga Torobulu serta pandangannya terhadap film dokumenter Pesta Babi.

“Di film pesta babi ini sebenarnya bukan sebagai film biasa melainkan dalam film ini membahas tentang perampasan tanah adat, kekerasan terhadap masyarakat,” terangnya.

“Kita bisa lihat di kampung kita (Torobulu) bahwasannya kita sendiri yang membuka keran untuk kerusakan desa kita,” lanjut dia.

Pernyataan tersebut juga ditegaskan oleh narasumber ketiga dari keterwakilan Jatam Sultra, Sarman. Ia menjelaskan terkait dengan fakta-fakta yang ada dalam film dan keterkaitannya dalam kisah perjuangan berhadap-hadapan dengan aparat negara (polisi, TNI, dan satpol PP) serta pandangannya terhadap kerakusan negara dalam menjajah pulau-pulau kecil.

“Film dokumenter ini valid dan terbukti dalam perjalanan teman-teman yang meneliti seperti Dandi Laksono dan kawan-kawan yang menemukan fakta di lapangan bahwa kedatangan perusahaan bukan untuk mensejahterakan masyarakat melainkan menyengsarakan masyarakat,” terang Sarman.

“Di Torobulu, ketika kita melakukan protes/krtitik terhadap perusahaan dan negara, kita akan diperhadapkan dengan aparat negara. Hal ini sama seperti dengan dialami masyarakat Papua yang selalu dihantui oleh militer TNI,” lanjutnya.

Lebih jauh Sarman menyampaikan bahwa jika kita tidak melihat film Pesta Babi, maka kemungkinan besar masyarakat di luar Papua, termasuk kita, akan menganggap bahwa perusahaan di Papua hanyalah Freeport. Ternyata masih banyak perusahaan di sana yang ikut andil merusak hutan Papua.

Sarman juga mengingat kembali perjuangan warga Wawonii. Meskipun dalam undang-undang pulau-pulau kecil dilarang untuk ditambang, fakta selama ini berlaku sebaliknya, para pemodal berupaya datang untuk menambang. Pada akhirnya warga jadi korban. Menurut data Jatam Sultra ada 44 Warga yang dilaporkan ke Polda Sultra.

Nobar dan diskusi berakhir pukul 22.56 WITA. Acara tersebut berjalan dengan baik, warga yang datang menonton juga sangat antusias. “Saya bersyukur warga sangat antusias dalam kegiatan pemutaran film dokumenter Pesta Babi, dalam hal ini kami dibantu dari awal memasak untuk konsumsi dan keaktifannya dalam melaksanakan nobar dan diskusi publik,” pungkas Ayunia Muis, panitia, di sela-sela penutupan nobar.*

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *