Warga sedang menyaksikan peletakan batu pertama untuk rumah Pak Made, warga lingkar tambang Torobulu, 15 Juni 2026. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Jagakampung.net – Warga Torobulu yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Torobulu (GMPT) gotong royong untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh keluarga Pak Made.
Tepat pada Senin, 15 Juni 2026 kemarin, warga melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan rumah Pak Made di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan.
Sebelumnya, pada Februari 2026 lalu, PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) diduga melakukan aktivitas penambangan dengan jarak 15 meter dan kedalaman 30 meter dari pemukiman warga. Rumah Pak Made adalah salah satu yang terdekat jaraknya dari galian perusahaan tambang tersebut.
Bahkan kandang ayam Pak Made yang persis ada di belakang rumahnya roboh ke dalam salah satu galian lantaran galian tambang tersebut begitu dekat.
Oleh karenanya, keluarga ini sudah tak berani tinggal di rumah, terutama saat musim penghujan. Mereka khawatir longsor akan menenggelamkan mereka bersama rumah dan segala isinya.
Apa yang dialami oleh keluarga Pak Made tersebut jamak dirasakan dan dialami oleh Masyarakat Torobulu dan desa-desa lain yang masuk ke dalam wilayah konsesi pertambangan PT WIN.
Harjun, warga Torobulu yang tergabung dalam GMPT menjelaskan, upaya gotong royong warga membangunkan rumah layak huni untuk keluarga Pak Made semata berangkat dari kepedulian untuk memberikan rasa aman dan nyaman.
“Tujuannya untuk memberikan rasa aman dan rasa nyaman kepada beliau,” kata Harjun.
Lebih lanjut dia menerangkan,ketika galian tambang PT WIN di pemukiman warga pada beberapa waktu lalu–termasuk persis di samping rumah Pak Made– ramai dibicarakan netizen di media sosial, Pak Made dan istri ditakut-takuti akan dimasukkan ke penjera oleh warga pro tambang maupun dari oknum perusahaan.
“Di mana akhir-akhir ini isu soal pertambangan di pemukiman di media sosial maupun cerita dari Pak Made, ada rasa ketakutan, kecemasan, bahkan tindakan merendahkan dari oknum yang merasa punya kewenangan atau kekuasaan,” terang Harjun.

Progres pembangunan rumah Pak Made sejak peletakan batu pertama. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Agar keluarga Pak Made merasa aman, salah satu warga yang tergabung dalam GMPT menghibahkan tanah untuk pembangunan rumah keluarga Pak Made. Sementara warga lain ada yang patungan beli bahan material berupa batu, pasir, dan semen. Semua itu dilakukan atas dasar sukarela membantu keluarga Pak Made.
Tak hanya warga, LBH Makassar dan Walhi Sultra juga ikut berpartisipasi membantu pembangunan rumah Pak Made dengan luas 42 meter persegi.
Menurut Hermina, warga Torobulu, gotong royong yang dilakukan oleh warga Torobulu tersebut merupakan bukti bahwa ikatan sosial dan kepedulian antar sesama warga penentang tambang sungguh masih solid.
“Warga yang bersolidaritas bergotong royong membangun rumah baru untuk keluarga Pak Made menunjukkan bahwa di Torobulu masih kuat ikatan sosial dan rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh sesama warga.” ujar Hermina.

Tampak bangunan rumah Pak Made saat ini, Sabtu, 04 Juli 2026. Foto: Ayunia Muis/Jagakampung.net
Bantuanmu Bisa Kirim ke Sini
Melalui kesempatan ini, warga Torobulu membuka donasi bagi publik di luar sana untuk mendukung proses pembangunan rumah keluarga Pak Made, korban aktivitas pertambangan PT WIN. Nantinya, penggunaan dana donasi ini secara terbuka akan dilaporkan melalui akun Instagram kolektif warga @torobulu_melawan.
Salurkan bantuan Anda melalui akun bank:
BRI – 4928 0103 9322 538 a.n Hermina dengan menggunakan keterangan “Lawan Tambang Nikel”. Untuk setiap donasi yang Anda salurkan, mohon menggunakan kode unik “7” agar sistem kami dapat mengenali dan memverifikasi donasi Anda secara otomatis.” Contoh: Rp500.007.






