Home / Warta / Pekan Literasi Torobulu: Anak-Anak Bajo Belajar tentang Laut dan Anatomi Ikan

Pekan Literasi Torobulu: Anak-Anak Bajo Belajar tentang Laut dan Anatomi Ikan

Anak-anak Bajo pamer hasil belajar ikan kertas origami, Minggu, 12 April 2026.

Bagaimana jika anak-anak Bajo tidak mengetahui warna laut lantaran dipenuhi tanah merah? Bagaimana jika mereka tidak lagi mengenal jenis-jenis ikan? Atau bagaimana jika  laut justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan dan keselamatan anak-anak Bajo lantaran tercemar lumpur galian ore nikel?

Saat menggelar baliho di permukaan tanah untuk alas buku-buku bacaan, saya kelilipan karena debu beterbangan. Sementara dari kejauhan terdengar suara anak-anak Bajo saling bersahutan agar bersama-sama datang berkunjung ke kegiatan Pekan Literasi Torobulu. Mereka berlari, sepoi angin dan suara air laut mengiringi langkah demi langkah mereka. Ada yang usil, tarik menarik dan bergandengan agar tak datang sendiri di kerumunan kegiatan Pekan Literasi Torobulu. 

Itulah gambaran suasana Pekan Literasi Torobulu yang kembali digelar di Lorong Bajo Torobulu, Minggu, 12 April 2026, setelah sekian lama vakum. Pekan Literasi kali ini bertajuk “Ikan dan Rumahku”.

Dulu laut menjadi tempat bermain anak-anak Bajo. Perahu yang ditambat orang tua mereka di siang hari, sore harinya digunakan anak-anak Bajo untuk balap perahu atau sekedar mencari tempat memancing. 

di Pekan Literasi Torobulu, puluhan anak-anak Bajo antusias menyimak dongeng tentang anatomi ikan: organ pernapasan ikan, alat gerak ikan, bagaimana cara ikan bertahan hidup dan rantai makan ikan, serta cara berkembang biak ikan. 

Keramaian menjadi hening sore itu saat Kak Ayu, salah satu pegiat Literasi Torobulu, bertanya dengan apa ikan bernafas? (anak-anak saling pandang satu sama lain) dan tidak ada yang menjawab. 

Tangan Kak Ayu yang memegang buku dongeng dikerumuni oleh kepala-kepala kecil, mereka semua penasaran. Akhirnya, mereka mengetahui bahwa ikan bernafas dengan “insang”. Kemudian mereka menganggukkan kepala seolah semakin paham tiap-tiap penjelasan Kak Ayu.

Berbeda dengan pekan sebelumnya, beberapa ibu turut memboyong anaknya melihat keseruan dan antusias anak-anak yang membuat ikan dari kertas origami. 

“Adanya kegiatan ini sangat bersyukur, seperti anakku ada lagi dia tahu, pasti dia senang. Sebentar selesai ini kegiatan pasti da bilang sama saya ‘ma saya tau lagi bikin ikan’, ‘ma begini pale bikin ikan dari kertas’, bagusnya kalau tiap hari.” timpal ibu Rita, perempuan Bajo Torobulu. 

Biasanya kegiatan ini dilakukan sepekan sekali, atau empat kali dalam sebulan. Namun karena berbagai kesibukan dan keterbatasan pegiat Pekan Literasi Torobulu, kegiatan ini kadang hanya dilakukan sekali dalam sebulan.

“Bukan hanya satu kali, tapi perlu berkali kali untuk menyampaikan kebaikan berupa penyadaran pentingnya menjaga lingkungan. Karena kita tidak tahu di waktu kapan dan di lisan / nasehat siapa yang bisa  mengetuk hati-sadar mereka.” tutur Hermina perempuan penggerak Pekan Literasi Torobulu. 

Dulu, sepulang mengaji sebelum kembali ke rumah masing-masing, anak-anak Bajo juga gemar mencari kerang bila air laut sedang surut. Kadang, ketika matahari hampir terbenam, semua anak seperti menolak untuk kembali ke rumah saking keasyikan bermain.

Sedimentasi pesisir laut Torobulu dan partikel yang berjatuhan ke laut dari kapal pengangkut material nikel menjadi penyumbang kerusakan ekosistem laut hinggap berdampak pada generasi saat ini. Hal ini menjadi kenyataan pahit yang dialami oleh anak-anak Bajo, sang pewaris laut.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *