Jagakampung.net — Kemenangan Warga Pulau Wawonii mengusir PT Gema Kreasi Perdana (GKP) merupakan buah dari perjuangan panjang. Hal itu disampaikan oleh warga Wawonii dalam diskusi SERAI (Serap Aspirasi) bertema “Jejaring di Pulau Wawonii” bersama Gerakan Indonesia Makmur (GIM), Rabu, 02 September 2026.
Wilman, aktivis Wawonii yang telah aktif sejak tahun 2016, bercerita bahwa perlawanan warga Wawonii terhadap industri ekstraktif untuk mempertahankan tanahnya telah berlangsung sejak tahun 2000-an.
Seingat Wilman, kedatangan perusahaan ke Pulau Wawonii bisa dibaca dalam lima fase sejak tahun 2000-an. Di tahun 2019 menjadi salah satu fase penting. Sebanyak 29 warga mengalami kriminalisasi dan 23 orang ditangkap. Namun, kriminalisasi tersebut tidak menghentikan gerakan warga.
Arti tanah bagi warga
Lebih lanjut Wilman menjelaskan, kegigihan warga menolak perusahaan tambang itu berpijak pada relasi unik antara warga Wawonii dengan tanah. Tanah tidak semata sebagai aset ekonomi atau komoditas yang dapat diperjualbelikan. Tanah adalah ruang hidup, tempat bekerja, tempat membangun hubungan sosial, sekaligus bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat.
Wilman Menambahkan, seperti juga pohon kelapa yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi pohon kelapa juga memiliki makna adat dan budaya. Dalam tradisi masyarakat Wawonii, 20 pohon kelapa menjadi bagian dari mahar untuk melamar seorang perempuan Wawonii.
Sementara itu, Titin Shalsadilah, aktivis Wawonii, juga menambahkan bahwa kebun juga dipandang sebagai tempat untuk menenangkan diri dan menjaga hubungan manusia dengan alam. Gambaran sederhananya, ketika seseorang menanam jambu atau kelapa dan merawatnya, terdapat semacam hubungan timbal-balik. Hubungan tersebut terjalin dalam seruan, “ketika kamu saya rawat, kamu harus merawat saya di masa depan,” ujar Titin.
Karena itu, kehilangan tanah bukan sekedar kehilangan lahan, tetapi kehilangan sesuatu yang memiliki dimensi emosional, sosial, dan kultural.

Dinamika gerakan warga
Aan, aktivis lokal dan warga Wawonii lainnya, mengungkapkan bahwa perlawanan yang panjang sering memunculkan tantangan berupa konflik horizontal antar warga. Pada tahun 2019, perusahaan tidak hanya datang dengan modal ekonomi, tetapi juga membawa berbagai harapan dan janji yang disosialisasikan.
“Sebagian warga yang semula mempertahankan lahannya, akhirnya mulai dijual. Konflik kemudian berkembang karena sosialisasi (dari perusahaan) tersebut dilakukan melalui hubungan keluarga dan antar kampung. Selain itu, tekanan terhadap tokoh-tokoh kunci menjadi cara masuk korporasi untuk menguasai dan membungkam gerakan perjuangan masyarakat,” jelas Aan.
Aan juga mendedah soal dinamika gerakan warga. Gerakan yang sebelumnya memiliki tokoh-tokoh dominan, secara perlahan berkembang menjadi gerakan kolektif. Tidak lagi bergantung pada satu pemimpin, tetapi bergerak dalam satu barisan sebagai masyarakat. Pria dan wanita sama-sama memerankan fungsinya di dalam aksi ini secara teratur.
Dengan cara itu, kriminalisasi dan upaya pecah belah antar warga semakin sulit.
SERAI ini menjadi ruang untuk mendengarkan secara langsung pengalaman masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup sekaligus memahami bagaimana sebuah gerakan sosial dapat bertahan menghadapi tekanan ekonomi, politik, dan kekuasaan. Bagi GIM, pengalaman tersebut bukan hanya kisah keberhasilan, tetapi sumber pengetahuan untuk memahami bagaimana gerakan sosial tumbuh, bertahan, dan membangun kekuatannya.
Di awal diskuis, Mario Valendo, perwakilan GIM, memberikan pengantar. Katanya, keterikatan pada Wawonii bermula dari riset pada Oktober 2023, ketika perlawanan warga terhadap tambang begitu memanas, dan hingga hari ini semangat itu terus bertahan.
“Sangat jarang sekali ada gerakan sosial yang berhasil memenangkan pertarungan seperti ini,” ujar Mario. Sebagai gerakan masyarakat yang dalam tahap mencari jati diri, GIM merasa perlu belajar langsung dari warga Wawonii untuk menuntun arah gerakannya di bidang sosial, ekonomi, maupun politik.
Selama dua jam diskusi ini berlangsung, Lukas Benevides (Bene) sebagai perwakilan GIM memoderatori jalannya diskusi tersebut. Dalam pengantar diskusi, Bene menegaskan bahwa potret social movement yang melawan dan menang terhadap perusahaan besar perlu didokumentasikan sebagai model perjuangan yang bisa dipelajari oleh berbagai gerakan sosial lainnya.***
