Dari Kiri: kondisi permukaan tanah di sawah ketika hujan turun dan tumpukan tanah kerukan PT WIN dekat sawah. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Jagakampung.net – Petani Desa Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan resah dengan aktivitas galian PT WIN yang melebar hingga dekat sawah dan sungai. Material galian perusahaan tambang itu ditimbun persis dekat sawah dan sungai satu-satunya yang menjadi sumber irigasi pertanian warga.
Itu dialami langsung oleh Wawan, 41 tahun, pemilik sawah yang dipepet lahannya oleh PT Wijaya Inti Nusantara (WIN). Dia khawatir jika hujan mulai turun, air yang mengaliri sawahnya akan bercampur lumpur bekas galian PT. WIN.
“Sabtu malam (1 November kemarin) itu hujan, airnya itu merah sampai di sini (lahan persawahan)” tutur Wawan, 4 November 2025, sambil menunjuk aliran sungai yang mengaliri sawahnya.
PT. WIN sebagai pemegang IUP diketahui telah melakukan aktivitas penambangan di Desa Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan sejak tahun 2019 lalu.
Bahkan PT WIN secara terang-terangan melakukan kerukan di samping sekolah dasar dan lahan di sekitar rumah warga, sebagaimana PT WIN lakukan pada beberapa desa lain.
“Saya sudah sampaikan (kondisi sawah terkini), bahkan saya ke kantor Senin lalu (27 oktober), bertemu HRD, saya disuruh ke kontraktor, justru itu kontraktor dia buang itu material di lokasiku” sambung Wawan.

Kondisi sungai yang menjadi sumber irigasi pertanian warga Mondoe sebelum hujan
Melihat kenyataan itu Wawan mencoba mendatangi PT WIN dengan harapan mendapatkan solusi agar tidak diganggu oleh aktivitas tambang dan tetap tenang mengolah sawahnya. Namun hingga kini PT WIN belum memberikan tanggapan atas keluhan petani tersebut.
“Kedepannya kita resah, apakah kami masih bisa melanjutkan hidup dengan bersawah, melihat penambangan yang seperti ini,” keluh Wawan.
Meski sawahnya belum ditanami padi, Wawan khawatir jika sewaktu-waktu hujan turun, maka otomatis air hujan yang mengaliri sawahnya dipastikan akan bercampur lumpur dari kerukan PT WIN.
Mengingat sawah seluas 1,6 hektar itu telah dia kelola sejak usia 20 tahun sejak sebelum menikah dan kini Wawan telah berkeluarga, sawah yang merupakan sumber kehidupan bagi keluarganya itu menjadi terancam. Dan Wawan tak tahu lagi kemana harus mengadu setelah diabaikan begitu saja oleh PT WIN.***






