Harjun sedang berbincang dengan warga Torobulu tentang kepedulian menjaga lingkungan. Foto: Dok. Jagakampung.net
Torobulu, Jagakampung.net – Nama saya Harjun Hamzah (42 tahun), sudah berkeluarga kurang lebih 20 tahun lalu, dikaruniai 3 orang anak. Kesibukan saat ini sebagai pengurus Masjid Nurul Jihad yang merupakan masjid induk Desa Torobulu. Saya punya usaha kecil-kecilan berupa bengkel las.
Pada tahun 2003, menjelang usia 21 tahun, saya diamanahi untuk meneruskan usaha kapal milik keluarga dengan menjadi nahkoda sejak sebelum bapak saya meninggal.
Namun, sejak masuknya perusahaan pertambangan PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, berbagai dampaknya langsung terasa khususnya aktivitas saya sebagai nelayan. Lalu lalang tongkang dan pencemaran lingkungan mengakibatkan kerusakan ekosistem biota laut. Hal itu berakibat juga pada jarak tangkap nelayan yang semakin jauh.
Oleh sebab itu saya kemudian memutuskan berhenti menjadi nelayan karena berkurangnya hasil tangkap di tengah modal yang cukup besar. Di samping itu semakin susah menemukan orang untuk menjadi anak buah kapal (ABK).
Beralih ke tambak udang dan gagal akibat pencemaran lingkungan
Sebagai informasi, PT Billy Indonesia (BI) adalah perusahaan tambang pertama yang masuk ke Desa Torobulu sejak 2009 dan berhenti beroperasi pada tahun 2016. Kemudian PT WIN masuk dan beroperasi di Desa Torobulu sejak tahun 2017 hingga sekarang.
Pertengahan tahun 2018 kapal jaring saya jual. Saya beralih profesi menjadi petambak. Namun, Pekerjaan sebagai petambak hanya berjalan 2 tahun atau berakhir di tahun 2020, penyebabnya adalah kondisi air sudah tercemar oleh aktivitas penambangan perusahaan tersebut.
Budidaya tambak udang sangat dipengaruhi oleh sirkulasi air laut. Saat tambak diisi benih udang misalnya, volume sirkulasi air laut sangat besar dan harus jernih sebab kualitas air menentukan kelangsungan hidup udang.
Sejak perusahaan nikel PT WIN masif melakukan penambangan di sekitar pemukiman warga Torobulu, di mana di situ terdapat aliran kali, air laut di sekitar pesisir jadi keruh dan berlumpur manakala material ore terbawa ke laut pada saat hujan, dan aliran kali tersebut hilirnya tepat di tambak yang saya kelola.
Saya juga menyampaikan kepada pihak perusahaan PT WIN atas dampak yang saya alami, tetapi tidak ada respon dari mereka dan tidak ada ganti rugi atas kerusakan tambak saya.
Bergabung dengan komunitas warga peduli lingkungan
Kecemasan yang muncul semenjak adanya aktivitas penambangan di Torobulu sudah saya rasakan langsung. Untuk itu saya bergabung dalam komunitas warga yang dinamai Aliansi Pejuang Lingkungan (APEL) HAM Torobulu.
Komunitas ini punya pemikiran dan kekhawatiran akan aktivitas penambangan yang tidak mempedulikan kelestarian lingkungan. Atas dasar itu saya dengan sukarela bergabung bersama warga memperjuangkan nasib kampung saya agar tidak dirusak oleh aktivitas penambangan yang semakin tidak terkontrol.
Saya melibatkan diri dalam diskusi komunitas, melakukan demonstrasi menentang pertambangan bersama warga, dan ikut merasakan bolak-balik memenuhi panggilan Polda Sultra untuk menemani beberapa warga yang dikriminalisasi, hingga memberi kesaksian di Pengadilan Negeri Andoolo.

Harjun memasang spanduk kerusakan lingkungan akibat perusahaan tambang di halaman masjid Torobulu. Foto: Dok Jagakampung.net
Nilai religius dalam perjuangan
Ajaran taqwa-lah yang menuntun hidup saya sampai saat ini. Sebab kita tahu prinsip kehidupan bahwa dunia itu sifatnya sementara. Kalau demikian, lalu apa sih yang kita kejar di dunia? dan apa sih yang kita ambil di dunia? Ya bekal, dan sebaik-baiknya bekal yaitu taqwa.
Bagaimana cara merealisasikan taqwa itu? Bahwa taqwa poinnya ada dua, yakni: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, saya akan berusaha bagaimana menjadi orang yang lebih bertaqwa selama hidup ini.
Itu yang mengantarkan saya untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan. Rasulullah juga memerintahkan untuk selalu menanam pohon. Kalau kita tidak nikmati buahnya, minimal ada hamba-hamba Allah seperti burung, ulat, yang mengambil manfaat dari pohon itu. Bahkan hingga anak cucu kita ikut merasakan manfaatnya. Yang jelas lingkungan itu penting, tidak bisa manusia hidup tanpa lingkungan yang lestari.
Mimbar sebagai media menyuarakan kerusakan lingkungan
Semakin saya sadar dan paham bahwa tidak cukup kalau hanya diri kita saja yang berjuang menjaga lingkungan. Jauh lebih baik ketika kita bisa mengajak orang lain.
Dari hal itu saya mulai belajar khutbah, tentu terinspirasi oleh hadis Rasulullah, “Sampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat”.
Ketika kerap mendapat giliran khutbah, saya semakin selektif memilih judul khutbah dengan harapan agar pendengar bisa memetik hikmah dari apa yang saya sampaikan.
Terkadang judul khutbah saya selip tentang betapa kita butuh akan kelestarian alam dan oleh karenanya penting untuk menjaganya. Ini salah satu upaya yang bisa saya lakukan selain ikut berdemonstrasi dan menghadiri rapat-rapat di Balai Desa Torobulu menyampaikan kekesalan atas lobi-lobi penambang kepada pemangku kepentingan yang tak berkesudahan.
Khutbah lingkungan dan aksi lapangan harus berbarengan
Khutbah di atas mimbar dan aksi di lapangan harus berbarengan. Semangat ini seperti dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman”.
Anggapan banyak orang iman itu seolah-olah hanya ada di masjid ketika sholat, ketika puasa, tapi lepas dari itu sudah tidak peduli dengan iman. Padahal tidak demikian. Seolah tidak ada rasa takut akan dosa. Ini sebenarnya yang menjadi kegelisahan saya secara pribadi. Harapannya dengan khutbah, saya bisa mengetuk hati masyarakat untuk sadar akan kelestarian lingkungan.***






