perempuan Torobulu memprotes aktivitas pertambangan yang dilakukan PT WIN dengan membentangkan poster-poster bernada penolakan. Foto: Dok. Warga Torobulu
Ancaman kerusakan lingkungan di Torobulu meluas, membuat warga bergerak menolak perluasan tambang, tak terkecuali perempuan. Kini perjuangan perempuan berdiri di garda depan menentang perusahaan PT WIN, namun menemui titik berat manakala stigma negatif dilekatkan pada mereka, hanya karena tekad yang kuatlah mereka terus bertahan.
Ketika semangat para lelaki Desa Torobulu sebagai garda terdepan menentang tambang PT WIN Torobulu mulai pudar dan kocar-kacir di tahun 2023 lalu, sejumlah perempuan di sana tampil terdepan mengambil peran menentang perusahaan tambang PT WIN.
Jika dulu suara dan keputusan diwakilkan oleh laki-laki, kini perempuan diberi kesempatan yang sama dalam mengutarakan kekhawatiran atas dampak kerusakan lingkungan. Tentu saja, ini merupakan hal baik karena yang pertama merasakan dampak kerusakan lingkungan adalah perempuan, di mana sebagian besar urusan domestik setiap hari bersentuhan langsung dengan perempuan.
Misalnya soal pasokan air bersih ke dalam rumah untuk keperluan memasak dan lain sebagainya biasanya dimanfaatkan langsung oleh perempuan. Sehingga perempuan punya semacam daya keterpanggilan untuk merawat dan menjaga kebersihan lingkungannya dari aktifitas pencemaran lingkungan seperti penambangan secara serampangan.
Oleh karena itu keterikatan alam dan perempuan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, seperti perempuan merawat keluarganya, seperti itu pula alam merawat dan menyediakan kebutuhan.
Tentu saja ada tekanan berupa suara-suara bernada negatif yang dihadapi perempuan saat melakukan aksi protes guna menyurutkan protes perempuan, baik dari laki-laki pekerja tambang maupun perempuan yang suaminya bekerja di perusahaan.
Merawat api perlawanan
Tak hanya perannya pada aksi demonstran, peran perempuan juga sangat besar dalam menumbuhkan kesadaran dan menjaga gerakan kolektif warga.
Berada sebagai minoritas warga penolak, perempuan sering dihadapkan dengan komitmen dan semangat individual dalam merawat api perlawanannya agar tidak surut. Sebab kita tahu, bahwa perusahaan tambang memiliki kedekatan relasi dengan aparat serta modal besar sehingga bisa melakukan apa saja.
Berjuang menjaga kampung di tengah menafkahi dan merawat keluarga –jika itu adalah perempuan berperan sekaligus sebagai kepala keluarga– merupakan hal yang sangat menguras waktu, energi dan pikiran. Satu sisi, kita tak mau kampung kita makin hancur, sementara di lain sisi masih memikirkan bagaimana menjaga piring agar tetap terisi makanan.

Karena budaya patriarki mengakar kuat
Budaya patriarki masih menancap kokoh di Indonesia termasuk juga di desa kecil bernama Torobulu, di mana ruang gerak perempuan dibatasi hanya pada urusan domestik.
Perempuan yang bersekolah ke jenjang lebih tinggi sering dianggap tidak akan berdampak banyak karena ujung-ujungnya akan mengurusi dapur dan rumah tangganya kelak.
Perempuan dengan suara vokal dan mengurusi hal di luar rumah dianggap pembuat onar dan kerap mendapat saran agar mengurusi diri sendiri dulu. Herannya, yang banyak mengomentari dan memojokkan gerakan perempuan penjaga lingkungan Torobulu adalah juga perempuan.
Kerap muncul pertanyaan, mengapa perempuan mengucilkan perempuan lain? Mengapa perempuan tidak mendukung suara perempuan lain? Karena cara pandang patriarkal telah subur dan membudaya serta tertanam jauh hingga ke alam bawah sadar masyarakat.
Kita hanya menyuruh perempuan agar menutup aurat, berbicara dengan nada rendah, dan agar berjalan tidak berlenggak-lenggok. Di saat yang sama kita lupa mengajari laki-laki menjaga pandangan, menjaga candaan yang seksis, dan menjaga pikiran.
Ruang diskusi bagi perempuan dibatasi dan jam malam hanya berlaku untuk perempuan di kampung-kampung seperti Torobulu. Tentu bila perempuan aktif berpendapat, dihargai, dan diberi ruang aman merupakan hal yang dapat membawa manfaat serta keseimbangan bagi alam dan sendi kehidupan lain di Torobulu.
Ada anggapan jika perempuan terlalu vokal dan kritis serta turut menjaga alam, maka urusan keluarga akan terabaikan. Padahal memilih bersuara untuk menjaga alam dan mengurus keluarga secara bersamaan pada dasarnya merupakan upaya menjaga generasi masa depan yang jauh lebih baik.
Kita sedang berada dalam negara yang mengorbankan alam atas nama kesejahteraan, yang selalu direduksi menjadi pembangunan semata meski menumbalkan kelestarian lingkungan. Padahal dampak kerusakannya dirasakan langsung oleh warga secara umum terutama perempuan.
Sementara itu partisipasi warga yang merasakan dampak langsung diabaikan begitu saja. Alhasil, alih-alih untung warga justru buntung. Maka itu, penting bagi perempuan membangun kesadaran politik serta bersama-sama menciptakan ruang aman. Upaya ini diharapkan agar tidak ada lagi kelompok yang dimarjinalkan, baik itu perempuan maupun kelompok rentan lainnya.***






