Warga Torobulu berkunjung ke Wawonii untuk diskusi dan nobar film Kutukan Nikel garapan Watchdoc. Foto: Amalia Muis/Jagakampung.net
Torobulu, Jagakampung – Kapal kayu yang berukuran cukup besar itu membawa sembilan orang warga Desa Torobulu menuju Pulau Kelapa (Wawonii). Bertolak dari Kota Kendari, waktu tempuh yang diperlukan empat hingga lima jam untuk tiba di Desa Sukarela Jaya, Wawonii Tenggara.
Namun, manakala musim ombak dan angin kencang tiba, perjalanan akan lebih sulit dan memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Kedatangan mereka sebenarnya ingin belajar sekaligus berbagi pengalaman suka duka dengan warga Wawonii mengenai solidaritas gerakan menjaga lingkungan dari eksploitasi alam oleh perusahaan tambang. Dua daerah ini termasuk dalam area kerukan penambang: PT GKP di Wawonii dan PT WIN di Torobulu.
Saat itu warga Wawonii menyambut hangat kedatangan warga Torobulu di dermaga khusus kapal kayu dan sudah menyiapkan kebutuhan selama di Wawonii. Esoknya warga Wawoni menceritakan setiap jengkal usaha yang telah mereka lakukan dalam menjaga kebun dan tanaman yang selama ini memberi mereka penghidupan.
Cerita Tentang Kenakalan PT GKP
Mulai dari tercemarnya sumber mata air yang selama ini jadi tumpuan warga. Sumber mata air ini mengaliri setiap rumah melalui pipa. Pipa air kemudian mengeluarkan endapan lumpur merah setelah PT GKP beroperasi. Warga akhirnya bergantung pada air hujan yang ditampung di tandon hingga waktu yang cukup lama.
Sebelumnya, PT. Gema Kreasi Perdana (GKP) mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) seluas 1.800 hektare di atas pulau seluas 707,10 hektare. Karena itu seringkali warga mendapati kebun mereka ada lubang bekas galian alat berat dan tumpukan ore nikel yang siap diangkut.
Demi mencegah hal tersebut terjadi lagi, warga kemudian membuat rumah gubuk di tengah kebun untuk berjaga setiap hari hingga berbulan-bulan lamanya. Mereka juga sering ditemani warga lain penolak tambang.
Bahkan ibu-ibu petani rela membawa perbekalan setiap hari agar perut tak kosong selama hidup di kebun dan kekhawatiran atas gangguan PT GKP tentu saja kerap menghantui mereka.
Pernah suatu waktu kebun milik salah satu warga penolak tambang diterobos PT GKP. Sekelompok perempuan yang tergabung dalam warga kontra tambang berdiri di baris depan mempertahankan kebun dari alat berat milik perusahaan. Penerobosan lahan oleh PT GKP dilakukan berulang kali membuat warga siaga berjaga, termasuk ibu-ibu petani.
“Di sini waktu penerobosan (lahan), kami sampai telanjang demi mempertahankan kami punya hak, telanjang kami disitu, ibu-ibu buka baju lillahi ta’ala, ini kakinya satu di atas excavator, kalian kuburkan saya dimana tiba ajalku, sa perjuangkan sa punya kebun di situ kalian kuburkan saya.” Kata Ratna, perempuan kukuh penolak tambang.
Pagi pertama di Wawonii itu menjadi pagi yang hangat. Ada derai air mata haru mendengar perjuangan yang mereka lalui dengan sangat tabah. Tak jarang juga suasana penuh tawa tatkala kedua warga menceritakan kisah lucu dan unik dalam perjalanan warga melawan tambang, terjalinnya silaturahmi dan juga saling bertukar kisah perlawanan dua daerah yang kini terasa seperti dikutuk nikel di Sulawesi Tenggara.
Nobar Film Kutukan Nikel

Laika komonona (rumah kebenaran) warga Wawonii merupakan tempat diskusi perkumpulan warga penolak tambang. Warga Torobulu berkesempatan ikut berkumpul di situ untuk nonton bareng (nobar) film “Kutukan Nikel” garapan Watchdoc. Sambil nonton, warga memilah batang dan bunga cengkeh hasil petik sore tadi, 12 September 2024.
Film berdurasi 42.23 menit ini memperlihatkan daerah-daerah yang menanggung imbas kebijakan hilirisasi oleh pemerintah, memicu konflik sosial dan merusak lingkungan di tiap wilayah. Wawonii masuk salah satu adegan dokumentasi film ini. Di sini mereka melihat kembali perjalanan yang telah mereka lalui.
“Makanya kami berjuang kalau ada kejadian di atas (kebun), ibu-ibunya semua di depan menghadapi aparat, masalahnya kami punya tanah kehidupan, kami punya tempat tinggal, anak cucu mau dikemanakan? Makanya perjuangan sampai sekarang masih solid, tidak ada runtuhnya, kami paling menderita, tidak ada yang istirahat baik-baik demi menjaga kebun” kata Amlia, menjelaskan alasan kenapa ia menolak PT GKP.
Fragmen Perjuangan Warga Torobulu
Usai pemutaran film Kutukan Nikel, beberapa vidio aktivitas PT. Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang disorot menggunakan drone, memperlihatkan bekas kerukan alat berat di sekitar pemukiman di Torobulu yang menyisakan lubang menganga tanpa reklamasi.
Tahun 2023 menjadi tahun penuh perlawanan. Puluhan aksi dan belasan laporan atas dugaan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi ugal-ugalan dilakukan PT. WIN. Ini merupakan tahun yang terasa panjang. Sebab PT. WIN melakukan kriminalisasi terhadap dua warga Torobulu dengan menjadikannya tersangka lantaran memperjuangkan lingkungan.
Delapan belas kali bersidang di Pengadilan Negeri Andoolo, Konawe Selatan, berakhir putusan lepas dari segala tuntutan hukum pada 1 Oktober 2024, dengan komitmen terus menjaga lingkungan dari ekspansi tambang PT. WIN.
Pengadilan Negeri Andoolo dalam putusan pengadilan berpesan kepada warga Torobulu “Kita tidak mewarisi bumi dan kekayaan alam ini dari nenek moyang, tetapi sesungguhnya kita hanya meminjamnya dari anak cucu kita, jagalah agar kelak mereka juga bisa melihat hijaunya bumi pertiwi” dibacakan oleh ketua hakim di ruang persidangan kala itu.
Perjuangan dua daerah –Wawonii dan Torobulu– yang merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan akibat kebijakan pemerintah menjadi bukti bahwa hirilisasi yang digadang bakal memberi kesejahteraan kepada warga lokal justru mengancam ruang hidup dan kelangsungan hidup mereka.***





