Hei, kenalin, nama saya Yonang. Kini saya berusia 16 tahun. Saya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan hidupku sewaktu masih berusia 11 tahun...
hingga saat ini perjuangan warga Wawonii tak pernah usai dari bayang-bayang perusahaan tambang yang telah menghancurkan sebagian alam Wawonii, juga telah menciptakan konflik sosial yang berkepanjangan...
Pak Latif tetap berdiri kokoh seperti tanaman kelapa miliknya tak putus asa untuk terus tumbuh...
Saat perusahaan datang, mereka dikawal polisi yang menenteng senjata, tentara lengkap dengan pakaian loreng, kakek saya juga ikut dilaporkan dikepolisian padahal lahan pertaniannya diserobot...
jika negara tetap menerbitkan izin tambang di pulau kecil dan pesisir maka secara otomatis melanggar hukum....
saat saya tiba di sana (ruang khusus dalam tahanan) ada orang dari kampung, orang perusahaan, tidak lain mereka datang hanya untuk membujuk saya agar melepas lahan pertanian saya...
Kalau sisa satu orang yang menolak kehadiran perusahaan di Wawonii, berarti itu adalah saya...
Ibu tiga anak itu terpaksa melarikan diri ke hutan bersama 9 warga lainnya, termasuk sang suami. Dia dituduh menghalang-halangi perusahaan, sedang suaminya dituduh merampas kemerdekaan orang lain....
Perusahaan sudah beberapa kali menawari saya untuk menjual lahan saya, namun saya tidak mau menjual lahan saya, sekalipun mereka sudah menerobos hingga menggali dan merusak tanaman-tanaman saya...
Meskipun hari ini kami (warga) telah menang, tapi saya yakin semua (ekosistem alam) tidak akan kembali seperti semula, air bersih kami yang telah tercemar dan sungai telah bercampur lumpur tidak akan ...









