Home / Warta / Membuat Talud atau Akal-Akalan PT WIN untuk Menambang ?

Membuat Talud atau Akal-Akalan PT WIN untuk Menambang ?

Tamrin protes atas aktivitas ekskavator di belakang rumahnya, 29 Agustus 2025. Foto: Hermina/Jagakampung.net

Torobulu, Jagakampung.net – Satu unit alat berat (ekskavator) milik PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) masuk ke belakang rumah warga di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Jumat 29 Agustus 2025.

Warga Torobulu, Tamrin memprotes keras akan keberadaan alat berat persis dibelakang rumahnya. Ia curiga alat berat tersebut hanya akal-akalan PT WIN yang berdalih untuk membuat talut atas permintaan warga.

“Kalau memang mau buat talud yah silahkan, tidak ada masalah, akan tetapi adakah yang bisa menjamin ke depan kalau ini alat tidak ada gerakan tambahannya (menambang),” ujar Tamrin, 1 September 2025.

Sekitar pukul 8 pagi, 29 Agustus 2025, terdengar suara ekskavator merobohkan pagar warga. Tamrin yang melihat hal itu langsung geram dan menanyakannya sebab operasi alat berat itu berjarak kurang lebih 25 meter dari rumahnya.

Di tengah-tengah perbincangan antara warga juga turut hadir Nilham, Kepala Desa Torobulu. Kepada mereka Tamrin mengatakan tidak masalah jika warga meminta perusahaan untuk melakukan penataan atau pembuatan talud.

Namun ia sangat resah jika ternyata ada penambangan di dalamnya. Dugaan kuat Tamrin itu berdasarkan pertemuan pekan sebelumnya dengan Hardin, warga Torobulu yang ingin lahannya ditambang. Kepada Tamrin, Hardin menyatakan, “Tidak mau diinjak lahannya oleh alat berat apabila tanahnya tidak diambil ore-nya”

Pernyataan itu tentu mengkhawatirkan bagi Tamrin sebagai warga yang akan terdampak langsung apabila ternyata terulang lagi penambangan di dekat rumahnya.

Warga pro tambang tidak berani menjamin

Tamrin mengaku resah setelah apa yang dialaminya pada tahun 2019 lalu. PT WIN menambang sangat dekat dengan pemukiman yang berjarak hanya 5 meter dari pagar rumahnya. Debu-debu beterbangan masuk ke dalam rumahnya dan mengancam kesehatan diri dan keluarganya.

“Cukup kasihan yang lalu itu kita resah. Ini sudah direklamasi dan pohon-pohonnya sekarang sudah mulai tumbuh, saya khawatir kalau terjadi lagi pengerukkan ore nikel, saya tidak nyaman dengan dampaknya, apalagi debunya jatuh jatuh seperti pasir di dalam rumah,” jelas Tamrin dengan nada memohon.   

Perbincangan itu berangsur sampai pukul 10.22 Wita. Namun tidak ada satupun warga pro tambang yang menjamin termasuk kepala desa, bahwa aktivitas ekskavator murni hanya untuk penataan lahan dan pembuatan talud.

Jika benar tidak ada maksud untuk menambang, ungkap Tamrin, seharusnya warga yang telah memanggil alat berat tersebut sepakat dan menjamin bahwa tidak ada aktivitas lain selain penataan lahan dan pembuatan talud.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *