Potret tambak dan ikan mati di Desa Parasi dan Mondoe diduga kuat karena aktivitas PT WIN yang abai dengan dampak lingkungan, 27 Desember 2025. Foto: Hermina/Jagakampung.net.
Torobulu, Jagampung.net – Petani tambak di Desa Parasi dan Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan, Konawe Selatan,Sulawesi Tenggara resah dengan aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN).
Salah satu perusahaan tambang nikel yang aktif beroperasi di Palangga Selatan dan Laeya itu diduga menjadi penyebab pencemaran lingkungan sehingga ikan dan udang di tambak-tambak milik warga di area pesisir banyak yang mati.
Itu dirasakan oleh Daharuddin (45 Tahun), petambak udang asal Desa Mondoe. Dia mengeluhkan hasil panen yang makin menurun sebab banyak udang tiba-tiba mati sebelum mencapai masa panen.
“Air jadi kabur. Kalau sudah begini tidak bisa lagi masukan air di empang, padahal sebelum ada perusahaan hasil panen bisa sampai 3 atau 4 ton, tapi kemarin hanya bisa dapat 1 ton saja,” ungkap Dahruddin, Sabtu, 27 Desember 2025.
Menurutnya, kandungan ore nikel mentah sangat berpengaruh pada nasib ikan dan udang. Sebagai petambak, ia benar-benar merasa terancam dengan adanya aktivitas PT WIN.
Hal yang sama juga dialami oleh Yusuf Barung (67 tahun). Petambak di pesisir Desa Parasi ini sudah mengalami gagal panen karena dampak aktivitas PT WIN.
Padahal sejak tahun 2015, Yusuf sudah mengelolah usaha tambak. Katanya, di tahun-tahun awal mengelola tambak hasil panennya cukup memuaskan karena air laut masih jernih. Namun sebaliknya, setelah PT WIN melancarkan aktivitas galian lahan secara masif, hasil panen tambak milik Yusuf mengalami penurunan sejak tahun 2022. Bahkan dua tahun terakhir ini dia seringkali mengalami kerugian.

Yusuf sedang menyaksikan ikan di tambak miliknya terapung mati diduga kuat karena dampak aktivitas PT WIN, 27 Desember 2025. Foto: Hermina/Jagakampung.net
Dia menilai udang dan ikan banyak yang mati disebabkan kualitas air yang keruh. Air keruh ini berasal dari aliran air hujan di lahan galian tambang PT WIN.
Dengan usia yang tidak lagi muda, harapan Yusuf satu-satunya adalah bergantung pada tambak miliknya untuk menghidupi keluarga juga biaya kuliah anak-anaknya.
“Tahun kemarin saya tebar 250 ribu bibit, tapi hanya bisa panen kurang lebih 15 kilo gram saja, jadi bukannya untung, malah buntung, kasian kami, mau kasih makan apa anak-anak, kalau sudah begini kondisinya?” tuturnya pada saat ditemui di rumahnya pada Kamis, 18 Desember 2025.
Menurut pengamatan Yusuf, ketika hujan turun, arus yang mengalir dari gunung ke hilir mengakibatkan air laut menjadi merah kecoklatan. Sehingga petani tidak bisa memanfaatkan air laut karena sudah bercampur lumpur. Kondisi ini jadi salah satu pemicu terhambatnya pertumbuhan ikan dan udang, karena petambak sangat mengandalkan kualitas air laut.
Lebih lanjut Yusuf mengatakan, kepentingan perusahaan seharusnya tidak mengancam keberlanjutan mata pencaharian tradisional masyarakat yang ada di lingkar tambang. Jika tidak, kerugian ekonomi yang dialami oleh petani tambak seharusnya menjadi perhatian serius.
“Harapan saya, bagaimana ini PT WIN juga pemerintah adakan solusi untuk kami petambak, karena di sini bukan saya saja yang rugi, tapi teman-teman yang lain juga,” keluhnya.
Oleh karena itu, Yusuf berharap pemerintah bersama PT WIN bisa memberi solusi pemulihan lingkungan agar tidak berdampak hingga ke laut.***






