Awal pembukaan jalan PT GKP di Wawonii. Foto: Eko Rusdianto/Mongabay Indonesia
Kementerian kehutanan telah mencabut IPPKH milik PT. GKP Kec. Wawonii Tenggara, Konawe Kepulauan melalui SK Menteri Kehutanan No.264 tahun 2025, 19 Mei 2025. Meski begitu, potensi kedatangan perusahaan itu dan lainnya untuk menambang di Pulau Wawonii masih terbuka lebar. Karena itu kami akan menurunkan tulisan-tulisang tentang cerita perjuangan warga Wawonii selama ini sebagai pengingat bahwa semangat dan perjuangan belum berakhir.
Wawonii, Jagakampung.net – Sulaemani (57) warga Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Konawe Kepulauan, menghabiskan waktu sehari-sehari dengan beraktivitas di lahan pertanian miliknya. Di lahan ini ada tanaman jambu mente, kelapa, cengkeh, dan juga pala.
Saat itu saya dan Sulaemani berjalan kaki menuju kebun jambu mente dan cengkeh miliknya. Warga setempat biasa menyebutnya kebun Pelaporoa, kira-kira lima kilometer jaraknya dari rumah Sulaemani.
Untuk sampai ke kebunnya, kami membutuhkan waktu dua hingga tiga jam lantaran medannya cukup sulit. Kami harus melewati sungai musiman Pelaporoa dan melintasi jalan hauling milik perusahaan PT. Gema Kreasi Perdana (GKP).
Sambil berjalan melewati aliran sungai dekat perkebunan warga, Sulaemani dengan kaki telanjang menunjukkan aliran sungai Pelaporoa yang ada di Desa Sukarela Jaya, tak jauh dari lokasi penambangan PT. GKP.
‘’Saya tidak berani lagi lewat di sini, apalagi saat hujan turun, saya takut terbawa arus deras yang membawa lumpur dan batang kayu yang tumbang,’’ ucap Sulaemani, 12 September 2025.
Bapak tiga anak itu menjelaskan bahwa sebelum perusahaan datang, perjalanan ke kebun miliknya hanya memakan waktu kurang dari satu jam, biasanya dia diantar anaknya menggunakan sepeda motor cukup sampai di pertengahan jalan, kemudian dia berjalan kaki.
Namun dia tidak bisa lagi menggunakan jalan tersebut – melainkan harus mengambil rute yang lebih jauh dari biasanya– lantaran PT GKP membangun jalan hauling yang melintasi jalan menuju kebun Sulaemani dan kebun warga lainnya di Pelaporoa. Di lain sisi medan perjalan ke kebun warga melewati tanjakan hingga ketinggian 400 kaki.
Kini Sulaemani harus berjalan kaki dari rumahnya di Desa Sukarela Jaya sampai ke kebun miliknya di Pelaporoa.
Keteguhan menolak tambang
‘’Kalau sisa satu orang yang menolak kehadiran perusahaan di Wawonii, berarti itu adalah saya,” tegas Sulaemani.
Sulaemani juga pernah menjadi salah seorang yang ditunjuk oleh PT GKP untuk menyaksikan aktivitas pertambangan di Pulau Obi yang juga merupakan anak perusahaan dari Harita Group.
Pihak PT GKP ingin menunjukkan jika penambangan di Pulau Obi sangat ramah lingkungan, tidak seperti apa yang dibayangkan warga Wawonii bahwa PT GKP akan merusak lingkungan.
Namun Sulaemani lebih memilih berangkat ke Morowali bersama dua anaknya secara mandiri tanpa biaya perusahaan. Dia dan dua anaknya menyewa mobil rental dari Kota Kendari ke Morowali, Sulawesi Tengah.
Perjalanan Sulaeamani dan dua anaknya menuju Provinsi Morowali, Sulawesi Tengah memakan waktu delapan hingga sepuluh jam. Sampai di Morowali tepatnya di Bahodopi, Sulaemani dan dua orang anaknya menyaksikan kerusakan lingkungan akibat pertambangan.
‘’Saya pulang di kampung, saya akan sampaikan kepada keluarga kita tolak tambang. Di Morowali hancur parah karena tambang,’’ ucap Pak Sulaemani sambil menggelengkan kepala.

Warga Wawonii memagar lahannya. Pemagaran tersebut dilakukan karena perkebunan jambu mete mereka barus saja digusur PT GKP. Foto: Betahita.
Setelah menyaksikan situasi penambangan di Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Bahodopi, Sulaemani kembali ke Kota Kendari lalu ke Pulau Wawonii. Sejak saat itu dia semakin yakin kehancuran akan terjadi jika perusahaan tambang masuk di Pulau Wawonii.
“Setelah saya lihat pertambangan disana (Morowali), saya langsung pulang di Kendari, saya bilang tidak bisa tambang masuk di Wawonii, kalau masuk pasti hancur parah,” tegas Sulaemani.
Sumber air bersih tercemar
Apa yang ditakutkan Sulaemani dan warga lainnya benar terjadi. Tak butuh waktu lama untuk menyaksikan kerusakan lingkungan. Sejak bulan April 2022 PT. GKP melakukan Penambangan di Pulau Wawonii, tiga sumber air bersih untuk mandi, minum, dan memasak, berubah warna kemerahan karena bercampur lumpur.
‘’Sampai sekarang di rumah saya menadah air hujan untuk kebutuhan memasak, lebi baik saya minum air hujan daripada saya gunakan air yang sudah tercemar,” terang Sulaemani.
Ia lebih memilih air hujan untuk kebutuhan sehari-hari daripada menggunakan air yang sudah tercemar dan berubah warnah menjadi kemerahan.
Jika tidak terlalu lelah saat kembali dari kebun, Sulaemani kadang memikul air bersih dari sungai yang jauh dari aktivitas perusahaan dengan menggunakan jerigen sepuluh liter untuk kebutuhan minum beberapa hari saja.***






