Mata air Banda tampak sangat keruh. Mata air ini menyuplai kebutuhan warga di lima desa di Kecamatan Wawonii Tenggara tapi tak bisa lagi digunakan. (Project M/Yuli Z.)
Kementerian kehutanan telah mencabut IPPKH milik PT. GKP Kec. Wawonii Tenggara, Konawe Kepulauan melalui SK Menteri Kehutanan No.264 tahun 2025, 19 Mei 2025. Meski begitu, potensi kedatangan perusahaan itu dan lainnya untuk menambang di Pulau Wawonii masih terbuka lebar. Karena itu kami akan menurunkan tulisan-tulisang tentang cerita perjuangan warga Wawonii selama ini sebagai pengingat bahwa semangat dan perjuangan belum berakhir.
Wawonii, Jagakampung.net – Sejak kecil, saya tumbuh di sebuah desa kecil yang tenang bernama Desa Roko-roko, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan atau Pulau Wawonii.
Di sinilah saya belajar mengenal dunia, bermain bersama teman di sungai yang airnya bening, membantu ibu di kebun, dan menikmati embusan angin yang membawa aroma tanah basah setiap kali hujan turun. Hidup kami sederhana, tapi penuh kedamaian.
Namun, semua itu berubah ketika saya dan warga lain mendengar isu tambang PT GKP akan datang beroperasi di Pulau Wawonii.
Awalnya kami hanya mendengar kabar dari orang-orang bahwa akan ada perusahaan tambang yang beroperasi di dekat desa. Katanya, tambang itu akan membuka lapangan pekerjaaan dan membantu perekonomian warga. Tapi entah kenapa, hatiku sudah tidak enak sejak awal.
Almarhum ayahku pernah bilang, “Kalau tanah sudah dilubangi (dikeruk), alam akan membalas.” Aku tak terlalu mengerti maksudnya waktu itu, sampai saya mulai merasakan sendiri dampaknya.
Truk-truk besar mulai berdatangan, beroperasi dan mulai lewat setiap hari ketika PT GKP masih beroperasi, membawa alat berat dan mengguncang jalan desa yang tadinya hanya dilalui motor dan sepeda. Tanah mulai bergetar tiap kali alat berat melintas.
Bukit yang dulu hijau perlahan berubah gundul lantaran dibangun mess oleh perusahaan PT Gema Kreasi Perdana (PT GKP) dan malam-malam berikutnya, rumah saya yang tidak jauh dari perusahaan itu agak sedikit merasa terganggu dengan aktifitas pembuatan mess itu di malam hari.
Seringkali saya bangun pagi dalam keadaan kurang tidur karena gangguan suara alat berat bekerja dari pagi ketemu pagi. Udara terasa lebih sesak, debu-debu beterbangan dan menempel di dedaunan, bahkan di jemuran baju kami.

Amlia, warga Sukarela Jaya, memperlihatkan tanaman kelapa di kebunnya yang rusak terendam air berlumpur. (Project M/Yuli Z.)
Yang paling membuat hati saya hancur adalah saat tambang beroperasi di atas atau di kebun-kebun warga. Mereka mencemari salah satu sumber kehidupan warga dan itu sangat penting bagi setiap mahluk hidup. Mereka mencemari air bersih, yang tadinya bening menjadi warna kuning kecoklatan atau keruh.
Air itu bukan hanya berubah warna, tapi juga berbau busuk karena lumpur. Ibu biasanya memasak dengan air pipa dari sumber mata air sungai. Sekarang ibu saya harus menyuruh kakak saya untuk mengambil air di sumur atau di sungai yang belum tercemar untuk dimasak dan dijadikan air minum. Kalau kakak saya tidak bisa mengambil air di sungai atau di sumur, ibu akan menampung air hujan untuk masak nasi dan lain sebagainya.
Kebun orang tua saya pun ikut terdampak. Jambu mente dan cengkeh yang ditanam ibuku malah gagal panen akibat debu perusahaan tambang tersebut. Dulu orang tua saya panen jambu mente sangat banyak bahkan hasil panennya berkarung-karung, tetapi sekarang menurun drastis.
Yang lebih miris lagi saat air keruh ada pembagian air dari pihak PT GKP, tetapi mereka hanya memberikannya kepada warga pro tambang saja. Sedangkan penolak tambang sengaja tidak diberikan.
Warga sudah mencoba mengadu. Mereka mendatangi kantor DPRD, dan kantor bupati Konkep, tetapi beberapa kali warga berdemonstrasi terkait pencemaran terhadap sumber mata air oleh perusahaan, dan ditanggapi setelah aksi demostrasi yang kesekian kalinnya.
Saat itu pihak Pemda Konkep memberikan tanngapan bahwa, “Kenapa tidak memakai air di sungai ini saja (sungai lain), saya rasa sungai ini masih bersih dan masi layak dikonsumsi.”
Pemda Konkep hanya turun melihat lokasi pencemaran tanpa ada langkah konkrit. Air tetap keruh, apa lagi saat musim hujan tiba.***






