Ibu Ana menambal jaring sobek di rumahnya, 21 Mei 2025.
Torobulu, Jagakampung – Ana, 42 tahun, terpaksa menantang takdir hidup yang timpang demi bisa memenuhi kebutuhan dua anaknya. Anak pertama, Asran berusia 15 tahun dan Anggun baru berusia 7 tahun. Asran putus sekolah sejak ayahnya wafat pada 2023 lalu. Ia hanya sampai duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
Siang itu, di rumahnya yang berdinding papan dan disekat sebuah triplek yang sudah dimakan rayap, Ana sedang menambal jaring sobek yang tergantung di dinding rumahnya dengan lincah.
Sejak suaminya kembali pada Sang Ilahi dua tahun lalu, Ana mengambil pekerjaan lain sebisanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan dapurnya.
“Mau bagaimana lagi, sudah takdir,” katanya sembari merapikan senar jahitnya, 21 Mei 2025.
Sulit mencari hasil laut yang melimpah
Pesisir Torobulu dan Muara Labokeo merupakan tempatnya mencari kerang dan teripang. Ana acapkali menumpang pergi bersama nelayan lain ke pesisir kecamatan lain yang lebih jauh untuk mencari hasil laut yang banyak, meski kadang menerjang ombak dan angin kencang.
Hasil yang didapatkan Ana itu berbeda jauh dengan dulu yang melimpah. Sekarang, beberapa gugusan karang dan pasir tempat kerang berkembang biak tertutup sedimen lumpur merah yang diduga akibat aktifitas galian pertambangan PT WIN terbawa ke laut saat hujan turun.
Penghasilan ibu dua anak tersebut tidak lagi menentu, dalam sehari kadang ia tidak mendapatkan uang sepeserpun. Itu karena selain langkanya kerang dan teripang, ia juga tidak lagi melaut setiap hari.
“Tidak tiap hari pergi nantipi ada metti (air laut surut), 5 hariji dalam 2 minggu” tuturnya dengan logat Torobulu kental.
“Kalau tidak adami uang dan makanan di rumah, larimi sama mama, makan,” tambahnya sambil menyeka air mata setelah menceritakan kondisi ekonominya yang cekak lantaran laut tercemar lumpur.
Menyambung hidup dari hasil kerja sampingan
Dalam sekali mencari kerang kadang Ana mendapat hasil 5-10 Kg. Itu pun sudah dibantu oleh anaknya. Sementara, harga kerang perkilo dibanderol Rp. 7000 – Rp. 10.000 rupiah. Hasil itu belum dipotong harga solar.
Kebutuhan hidupnya tentu saja tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan hasil kerang dara dan teripang. Untuk menyiasati kekurangannya, ibu dua anak itu memperbaiki jaring tetangga yang diupah Rp. 150.000/satu bentang.
Kalau kerusakan jaring yang dikerjakan cukup parah –maka untuk menyelesaikan 1 bentang jaring– Ana memerlukan waktu 2 minggu. Itu pun jika keadaan dan kesehatannya baik-baik saja. Sejak divonis kadar kolesterolnya sering kali tinggi dan tidak terkontrol, perempuan Suku Bajo itu kesulitan jika kelamaan duduk.
Merusak mata pencarian warga

Torobulu merupakan desa pesisir yang memiliki luas 12,297 Km2. Potensi sumberdayanya cukup untuk memenuhi kesejahteraan warga, mulai dari sektor pertanian, perkebunan sampai dengan sektor kelautan dan perikanan.
Tak ayal Torobulu dijuluki sebagai “Desa Dollar”. Karena potensi sumber daya alamnya melimpah, Torobulu justru menjadi sasaran keserakahan pemodal dengan berusaha mengeksploitasi nikelnya sejak tahun 2009 oleh PT Billy Indonesia (PT BI).
Akibatnya, tahun 2010 budidaya rumput laut di pesisir Torobulu sempat terganggu dan berhenti gara-gara ulah PT BI itu. Lalu warga kembali membudidayakan rumput laut setelah PT BI angkat kaki pada 2016. Sialnya, PT WIN datang pada 2019 seiring kebijakan hilirisasi nikel Presiden Jokowi.
Sejak menambang di Desa Torobulu, PT WIN diduga kuat tidak memperhatikan aspek lingkungan. Akibatnya bukan hanya menghilangkan sumber pendapatan petani rumput laut karena perubahan warna air laut, tetapi juga sero (alat tangkap ikan tradisional) milik warga rusak tertutup sedimen lumpur bekas galian tambang yang terbawa arus air hujan ke laut.
Tak hanya itu, menurut penuturan banyak nelayan Torobulu, bahwa mereka mengalami penurunan hasil tangkap dan harus mengeluarkan ongkos yang lebih besar karena harus melaut di jarak tempuh lebih jauh untuk mendapatkan hasil banyak.***






